Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan
pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu?
Jawabannya sangat beragam, dari mulai jawaban karena Allah hingga
jawaban duniawi; cakep atau kaya. Tapi ada satu jawaban yang sangat
berkesan di hati saya.
Hingga detik ini saya masih ingat
setiap detail percakapannya, jawaban seorang teman saya yang baru saja
menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya
berkenalan kurang lebih 3 bulan, setelah itu memutuskan untuk menikah.
Persiapan pernikahan pun hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau
dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti
ini sudah biasa.
Dia bukanlah akhwat sebagaimana lazimnya,
sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat
berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki sewaktu
pacaran membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika ia memberitahu
akan menikah, saya tidak menanggapinya dengan serius. Mereka berdua
baru kenalan, bahkan dalam kurung waktu yang sangat singkat. Bertemunya
pun juga sangat jarang, dan biasanya mereka berkomunikasi hanya
melalui surat atau pesan singkat sms. Tetapi saya berdoa, semoga
ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.
Sebulan
kemudian ia menemui saya. Ia menyebutkan tanggal pernikahannya,
memohon kepada saya untuk cuti agar bisa menemaninya selama proses
pernikahan. Begitu banyak pertanyaan di kepala saya. Sungguh rasa
penasaran saya demikian besar, kenapa ia begitu mantapnya menerima
lelaki itu.
Ada apakah gerangan? Tentu ada satu hal
istimewa di diri lelaki itu, hingga ia mau menikah denganya dan
memutuskan menikah secepat itu. Tapi sayang, kami sedang sibuk sekali
waktu itu. Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahannya.
Beberapa kali ia nelfon untuk meminta pendapat tentang beberapa hal,
dan beberapa kali juga saya menelfonnya untuk menanyakan perkembangan
persiapan pernikahannya, sangat sulit bagi kami untuk bisa berbicara.
Kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya pun
menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap di rumahnya. Jam 11 malam, H-1, kami baru
bisa ngobrol berdua di taman rumahnya. Hiruk pikuk persiapan akad nikah
besok pagi, sungguh membelenggu kami, meski itu kami juga berusaha
untuk bisa ngobrol. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan, ia juga
ingin bercerita banyak hal.
Akhirnya kami bisa ngobrol
semalaman. Wajah cantiknya terlihat jelas dalam keremangan lampu taman.
Setelah panjang lebar kami masing-masing cerita tentang pengalaman
masa lalu dan impian hidup di hari esok, tibalah saya dalam satu
pertanyaan tentang keputusan hidupnya memilih lelaki itu, "Kenapa kamu
memilihnya?" tanyaku. Sambil tersenyum simpul, ia bangkit dari
duduknya. Ia masuk ke kamar, berlahan ia membuka laci meja riasnya dan
kembali ke taman, lalu menyerahkan selembar amplop kepadaku. Saya
menerima amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon
suaminya bekerja. "Apaan sih ini?" Tanyaku penasaran sambil memandangnya
tak mengerti. "Buka aja." Jawabnya singkat sambil ngikik geli.
Sebuah
kertas saya tarik keluar, kertas polos berukuran A4. Saya membaca satu
kalimat di atas di deretan paling atas, "Busyet dah nih orang." Saya
menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum, sementara ia ngikik
melihat ekspresiku. Saya memulai membacanya;
*********
Kepada Yth,
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya, calon kakak dan adik buat adik dan kakak saya
Di tempat
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Mohon maaf sekiranya kamu tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Setelah itu silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.
Saya, yang bernama ..... menginginkanmu .... untuk menjadi istri saya.
Saya
bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya
pekerjaan, tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya
pekerjaan. Yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk
mencukupi kebutuhan istri dan anak-anak saya kelak.
Saya
masih kontrak rumah, dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak
selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan
anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.
Saya
hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan. Saya menginginkanmu untuk mendampingi hidup saya untuk
menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya.
Saya
hanya manusia biasa. Cinta saya juga cinta biasa. Karena itu saya
mengharapkanmu ingin membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar
menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama
sampai mati karena saya tidak tahu takdir hidup saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tekad menjadi suami dan ayah yang baik.
Kenapa
saya memilihmu? Hingga saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilihmu.
Saya sudah sholat istikharoh berkali-kali, dan setiap kali saya
melakukannya, hati saya semakin mantap memilihmu. Yang saya tahu, saya
memilihmu karena Allah, dan yang pasti, saya menikah untuk
menyempurnakan agama saya, mengikuti sunnah Rasulullah. Saya tidak
berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi
lebih baik dari saat ini.
Saya mohon kamu shalat
istikharoh dulu sebelum memberi jawaban atas niat tulus saya ini. Saya
kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho
dengan jalan yang kita tempuh ini. Aamiin
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
*********
Saya
memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini
saya membaca surat 'lamaran' yang begitu indah. Sederhana, jujur dan
realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata-kata penuh dusta. Surat
cinta minimalis, saya menyebutnya. Saya menatap sahabat disamping saya,
ia pun menatap saya dengan senyum tertahan sambil meneteskan air mata
bahagia.
"Kenapa kamu memilihnya?" Selidikku dengan penuh penasaran.
"Karena
dia manusia biasa." Dia menjawab mantap. "Saya sadar bahwa ia hanyalah
manusia biasa. Dia yakin masih memiliki Allah yang mengatur hidupnya.
Yang saya tahu ia akan selalu berusaha, meski ia tidak menjanjikan
apa-apa. Dia mengatakan itu karena sadar bahwa ia tidak tahu apa yang
akan terjadi tentang kami dikemudian hari, dan entah kenapa, itulah yang
memberi kenyamanan tersendiri di hatiku."
"Maksudnya?"
"Dunia
ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada,
iya kan? Paling tidak aku tahu bahwa ia tidak akan frustasi sekiranya
suatu hari nanti kami jadi gembel. Hahaha."
"Sssttt."
Saya membekap mulutnya, kuatir ada yang tahu kalau kami ngobrol
rahasia. Terdiam kami memasang telinga. Sunyi. Kami saling berpandangan
lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing.
"Ni’",
tidur yu, dah larut." "Yu'." Saya juga memang sudah ingin ia tidur,
agar tidak begadang hingga terlalu larut dan ia bisa terlihat semakin
cantik di esok hari.
Malam itu, percakapan kami terus terngiang di telingaku hingga membuatku sendiri sulit untuk memejamkan mata...
*********
Satu
lagi pelajaran pernikahan yang saya peroleh hari itu. Ketika manusia
sadar akan arti kemanusiannya, sadar bahwa ada kekuatan yang Maha
mengatur segala kehidupan ini, bahwa kehidupan dunia ini hanyalah
sementara, maka kepedulian akan kesederhanaan hidup, ketenangan bathin,
dan rasa rindu akan kehidupan akhirat menjadi lebih penting diatas
segalanya.
Betapa indah bila proses menuju pernikahan
mengabaikan harta, tahta dan 'nama'. Embel-embel predikat diri yang
selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang 'melekat' pada diri
bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama, pernikahan hanya dilandasi
karena Allah semata, diniatkan untuk ibadah, menyerah secara total
kepada Allah, maka semua akan menjadi indah.
Dengan
bersimpuh luruh dalam kepasrahan ubudiyah memohon keridhoanNya, meminta
kemurahan kasihNya mengucurkan keberkahan dalam sebuah pernikahan, maka
semua akan menjadi bermakna.
Lalu, bagaimana dengan
cinta? Kata Ibu, cinta itu proses. Proses dari ada - menjadi hadir -
lalu tumbuh - kemudian merawatnya. Untuk membuatnya terus bersemi, yang
dibutuhkan hanyalah kesadaran diri slalu untuk mengerti dengan sepenuh
jiwa bahwa dunia ini hanyalah proses menuju kehidupan yang kekal.
Dengan pertemuan cinta yang halal dan suci yang didasari dengan niat
tulus untuk menghambakan diri kepadaNya semata, maka cinta dua manusia
biasa akan menjelma menjadi cinta yang luar biasa.
Oleh: Nhea az Zahra
Editor: Nuldy Muthahar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar