Sabtu, 22 September 2012

FATIMAH AZ ZAHRA

Tatapannya tajam memandang. Pohon-pohon korma yang tinggi dengan daunnya yang berwarna mulai tampak. Rumah-rumah Madinah yang akrab baginya mulai terlihat. Sejenak ia berhenti dan menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup aroma semerbak Rasul, mesjid Nabi dan menara yang selama bertahun-tahun menjadi tempat dirinya mengumandangkan adzan. Ia mulai melangkah. Tak berapa lama, gerbang kota Madinah telah ia lewati. Ia berdiri mengibaskan pakaiannya untuk menghormati kota Nabi, memandang menatap sekelilingnya. Semua orang sibuk dengan pekerjaan keseharian mereka. Tak ada yang sadar akan kedatangannya. Ia bergegas menuju perkampungan Bani Hasyim menyusuri lorong-lorong sempit. Ia mulai mengingat kenangan lama. Dulu ia sering berdiri di lorong ini untuk mengiringi Nabi berjalan menuju mesjid. Kali ini, ia datang ke Madinah untuk menemui putri kesayangan Nabi, Fatimah. Ia bergegas menuju rumah Ali. Sebelumnya ia telah berjanji untuk tidak datang ke kota yang telah melupakan keluarga suci Nabi itu, namun kerinduan dan kecintaannya terhadap Fatimah, menggerakkan nuraninya untuk datang menemuinya. Sesampainya di depan rumah Fatimah, ia mengucapkan salam, "Salam Sejahtera atas Keluarga Nabi."

Hasan dan Husein, dua putra Ali dan Fatimah yang mengenal suara itu segera berlari ke arah pintu, "Bilal datang!" Bilal memeluk dua cucu kesayangan Nabi itu. Tak mampu ia menahan derasnya airmata yang mengalir membasahi wajahnya. Hasan dan Husein teringat hari-hari sewaktu kakek mereka Rasulullah masih hidup, sementara aroma kenabian kembali dirasakan oleh Bilal. Kepada keduanya Bilal menanyakan keadaan ibunya. Hasan dan Husein mengapit tangan muadzin Rasul itu untuk menemui ibundanya yang terbaring lemas karena sakit yang diderita. Putri Rasul sedang menanti kedatangan Bilal, sebab dalam mimpinya, Rasulullah mengatakan bahwa Bilal akan datang menjenguk Fatimah. Bilal mengucap salam. Dengan suara lirih dan nyaris tak terdengar, "Salam atasmu wahai putri Rasulullah." Fatimah menjawab, "Salam atasmu wahai muadzin ayahku."

Suara putri Nabi yang sangat lemah itu makin menyayat hati Bilal. Ia bertanya, "Wahai putri Rasulullah, apa gerangan yang terjadi sehingga Anda terbaring sakit seperti ini?" Tanpa menjawab pertanyaan itu, Fatimah meminta Bilal untuk sekali mengumandangkan adzan di mesjid Nabi. "Bilal, sebelum aku pergi selamanya, aku ingin mengingat hari-hari indah bersama Rasulullah. Pergilah ke mesjid dan kumandangkanlah adzan untukku." Bilal segera menuju ke mesjid memenuhi permintaan putri kecintaan Nabi itu.

"Allahu Akbar Allahu Akbar." Madinah membisu. Suara Bilal membahana di seluruh penjuru kota. Suara itu sangat akrab di telinga warga Madinah. Bilal melanjutkan, "Asyhadu an lailaha illallah." "Ya, itu suara Bilal." Segera mereka meninggalkan pekerjaan masing-masing menuju ke mesjid Nabi. Bilal melanjutkan, "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah." Tiang-tiang mesjid bergetar saat nama rasul disebut. Mereka yang memandang Bilal, si muadzin Nabi, teringat pada hari-hari yang telah lalu dan tak mampu menahan jatuhnya butiran bening dari kelopak mata mereka. Di rumah Ali, Fatimah tidak dapat menahan diri saat mendengar nama ayahnya disebut, dan akhirnya jatuh pingsan. Hasan dan Husein berlari menuju mesjid dan meminta Bilal menghentikan adzannya. "Bilal, demi Allah, jangan engkau teruskan adzanmu. Ibuku tak mampu menahan kesedihannya lagi." Bilal menghentikan adzannya dan turun dari menara masjid Nabi. Tak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan, tenggorokannya terasa begitu sesak. Direngkuh dan dipeluknya kedua cucu kesayangan Nabi itu, dengan air mata deras yang membasahi pipinya.

Sebelum ajal datang menjemputnya, Fatimah az Zahra menghadap kiblat setelah sebelumnya berwudhu. Beliau mengangkat tangan seraya berdoa, "Ya Allah, jadikanlah kematian bagai kekasih yang aku nantikan. Curahkanlah rahmat dan inayahMu kepadaku. Tempatkanlah ruhku di tengah arwah orang-orang yang suci dan jasadku di sisi jasad-jasad mulia. Masukkanlah amalku ke dalam amal-amal yang Engkau terima."

Tanggal 3 Jumadil Tsani 11 Hijriyyah, Fatimah az Zahra, putri kesayangan Nabi menutup mata untuk selamanya. Ia wafat meninggalkan pelajaran-pelajaran berharga bagi kemanusiaan.

Rasul pernah menyifati putrinya, Fatimah az Zahra dengan sabdanya, "Allah telah memenuhi hati dan seluruh anggota tubuh Fatimah dengan keimanan dan ketakwaan." Kepada putrinya itu, beliau bersabda, "Fatimah, Allah telah memilihmu dan menghiasimu dengan makrifat dan pengetahuan. Dia juga telah membersihkanmu dan memuliakanmu di atas wanita seluruh jagat."

Kecintaan Rasulullah kepada Fatimah merupakan satu hal khusus yang layak untuk dipelajari dari kehidupan beliau. Di saat bangsa Arab menganggap anak perempuan sebagai pembawa sial dan kehinaan, Rasul memuliakan dan menghormati putrinya sedemikian besar. Selain itu, Rasulullah biasa memuji seseorang yang memiliki keutamaan. Dengan kata lain, pujian Rasul kepada Fatimah adalah karena beliau menyaksikan kemuliaan pada diri putrinya itu.

Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, "Mengapa Anda tidak memperlakukan anak Anda yang lain seperti Fatimah?" Rasulullah menjawab "Engkau tidak mengenal Fatimah. Aku mencium bau surga pada diri Fatimah. Engkau tidak tahu bahwa keridhaan Allah ada pada keridhaan Fatimah dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan Fatimah."

Kesempurnaan manusia tidak mengenal jenis kelamin. Kesempurnaan adalah sebuah anugerah yang diberikan Allah kepada hambaNya untuk dapat mengenal dirinya lebih dalam. Fatimah adalah contoh nyata dari sebuah kesempurnaan. Dengan mengikuti dan meneladaninya, kebahagiaan hakiki yang mengantarkan kepada kesempurnaan akan bisa digapai. Fatimah adalah wanita yang banyak menimba ilmu, makrifat dan hikmah hakiki.

Riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa Fatimah hanya sempat mengenyam kehidupan yang singkat. Ia wafat pada usia yang sangat belia, 18 tahun. Meski singkat, kehidupannya banyak mengandung pelajaran berharga. Kehidupan putri Rasul ini laksana permata indah yang memancarkan cahaya.

Tak diragukan lagi, sebagian besar masalah yang dihadapi umat manusia adalah karena kelalaiannya akan hakikat wujud kemanusiaannya, sehingga terjebak dalam tipuan dunia. Sebaliknya, manusia bisa mendekatkan diri kepada Allah saat ia mengenal dirinya dan mengetahui tugas yang harus ia lakukan dan pertanggungjawabkan dihadapanNya.

Fatimah Zahra adalah seorang figur yang unggul dalam keutamaan ini. Dalam doanya, beliau sering berucap, "Ya Allah, kecilkanlah jiwaku di mataku dan tampakkanlah keagunganMu kepadaku. Ya Allah, sibukkanlah aku dengan tugas yang aku pikul saat Engkau menciptakanku, dan janganlah Engkau sibukkan aku dengan sesuatu yang lain."

Keikhlasan dalam beramal adalah jembatan menuju keselamatan dan keberuntungan. Manusia yang memiliki jiwa keikhlasan akan terbebas dari seluruh belenggu hawa nafsu dan akan sampai ke tahap penghambaan murni. Keikhlasan akan memberikan keindahan, kebaikan, dan kejujuran kepada seseorang. Contoh terbaik dalam hal ini dapat ditemukan pada pribadi agung Fatimah az Zahra.

Dalam salah satu munajat Fatimah beliau berdo'a, "Ya Allah, aku bersumpah dengan ilmu ghaib yang Engkau miliki dan kekuatan penciptaanMu. Berilah aku keikhlasan agar aku selalu tunduk dan menghamba padaMu di kala senang dan susah. Saat kemiskinan mengusikku atau kekayaan datang kepadaku, aku tetap mengharap padaMu. Hanya dariMu aku memohon ketenangan tak berujung dan kelapangan pandangan yang tak berakhir dengan kegelapan. Ya Allah, hiasilah diriku dengan iman, dan masukkanlah aku ke dalam golongan mereka yang mendapatkan petunjuk."

Kecintaan Fatimah kepada Allah disebut oleh Rasulullah sebagai buah dari keimanannya yang tulus. Sabdanya, "Keimanan kepada Allah telah merasuk ke kalbu Fatimah sedemikian dalam, sehingga membuatnya tenggelam dalam ibadah dan melupakan segalanya."

Manusia yang mengenal Tuhannya akan menghiasi perilaku dan tutur katanya dengan akhlak yang terpuji. Asma', salah seorang wanita yang dekat dengan Fatimah berkata, "Aku tidak pernah melihat seorangpun wanita yang lebih santun dari Fatimah. Fatimah belajar kesantunan dari Dzat yang Mahabenar. Hanya orang yang terdidik dengan tuntunan Ilahi-lah yang bisa memiliki perilaku dan kesantunan yang suci. Ketika Allah melalui firmanNya memerintahkan umat untuk tidak memanggil Rasul dengan namanya, Fatimah kemudian memanggil ayahnya dengan sebutan Rasulullah. Kepadanya Nabi bersabda, "Fatimah, ayat suci ini tidak mencakup dirimu." Dalam kehidupan rumah tangganya, putri Nabi ini selalu menjaga etika dan akhlak. Kehidupan Ali dan Fatimah yang saling menjaga kesantunan ini layak menjadi teladan bagi semua.

Kasih sayang dan kelemah-lembutan Fatimah diakui oleh semua orang yang hidup sezaman dengannya. Dalam sejarah disebutkan bahwa kaum fakir miskin dan mereka yang memiliki hajat, akan datang ke rumah Fatimah ketika semua jalan yang bisa diharapkan membantu mengatasi persoalan mereka telah tertutup. Fatimah tidak pernah menolak permintaan mereka, meski kehidupannya sendiri sangat berkekurangan.

Hal penting lain yang dapat dipelajari dari kehidupan dan kepribadian penghulu wanita sejagat ini adalah sikap tanggap dan peduli yang ditunjukkannya terhadap masalah kehidupan rumah tangga, pendidikan dan kehidupan sosial. Banyak yang berprasangka bahwa keimanan dan penghambaan yang tulus kepada Allah akan menghalangi seseorang untuk berkecimpung dalam urusan dunia. Kehidupan Fatimah mengajarkan kepada kita akan hal yang berbeda dengan prasangkaan itu. Dunia di mata Fatimah adalah tempat kehidupan. Ia menegaskan bahwa dunia laksana anak tangga untuk menuju ke puncak kesempurnaan, dengan syarat hati tidak tertawan oleh tipuannya. Dalam satu munajatnya, ia berdo'a, "Ya Allah, perbaikilah duniaku, tempat bergantungnya kehidupanku. Perbaikilah akhiratku, karena ke sanalah aku akan kembali. Panjangkanlah umurku selagi aku masih bisa berharap kebaikan dan berkah dari dunia ini.
by Pelangi senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar