Sabtu, 22 September 2012

Bukan Cinta biasa

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu? Jawabannya sangat beragam, dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi; cakep atau kaya. Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya.

Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya, jawaban seorang teman saya yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan kurang lebih 3 bulan, setelah itu memutuskan untuk menikah. Persiapan pernikahan pun hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah biasa.

Dia bukanlah akhwat sebagaimana lazimnya, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki sewaktu pacaran membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika ia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapinya dengan serius. Mereka berdua baru kenalan, bahkan dalam kurung waktu yang sangat singkat. Bertemunya pun juga sangat jarang, dan biasanya mereka berkomunikasi hanya melalui surat atau pesan singkat sms. Tetapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian ia menemui saya. Ia menyebutkan tanggal pernikahannya, memohon kepada saya untuk cuti agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan di kepala saya. Sungguh rasa penasaran saya demikian besar, kenapa ia begitu mantapnya menerima lelaki itu.

Ada apakah gerangan? Tentu ada satu hal istimewa di diri lelaki itu, hingga ia mau menikah denganya dan memutuskan menikah secepat itu. Tapi sayang, kami sedang sibuk sekali waktu itu. Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahannya. Beberapa kali ia nelfon untuk meminta pendapat tentang beberapa hal, dan beberapa kali juga saya menelfonnya untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya, sangat sulit bagi kami untuk bisa berbicara. Kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya pun menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap di rumahnya. Jam 11 malam, H-1, kami baru bisa ngobrol berdua di taman rumahnya. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kami, meski itu kami juga berusaha untuk bisa ngobrol. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan, ia juga ingin bercerita banyak hal.

Akhirnya kami bisa ngobrol semalaman. Wajah cantiknya terlihat jelas dalam keremangan lampu taman. Setelah panjang lebar kami masing-masing cerita tentang pengalaman masa lalu dan impian hidup di hari esok, tibalah saya dalam satu pertanyaan tentang keputusan hidupnya memilih lelaki itu, "Kenapa kamu memilihnya?" tanyaku. Sambil tersenyum simpul, ia bangkit dari duduknya. Ia masuk ke kamar, berlahan ia membuka laci meja riasnya dan kembali ke taman, lalu menyerahkan selembar amplop kepadaku. Saya menerima amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. "Apaan sih ini?" Tanyaku penasaran sambil memandangnya tak mengerti. "Buka aja." Jawabnya singkat sambil ngikik geli.

Sebuah kertas saya tarik keluar, kertas polos berukuran A4. Saya membaca satu kalimat di atas di deretan paling atas, "Busyet dah nih orang." Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum, sementara ia ngikik melihat ekspresiku. Saya memulai membacanya;

*********

Kepada Yth,
  
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya, calon kakak dan adik buat adik dan kakak saya
  
Di tempat
  
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Mohon maaf sekiranya kamu tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Setelah itu silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama ..... menginginkanmu .... untuk menjadi istri saya.
  
Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan, tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anak saya kelak.

Saya masih kontrak rumah, dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkanmu untuk mendampingi hidup saya untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya.

Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga cinta biasa. Karena itu saya mengharapkanmu ingin membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati karena saya tidak tahu takdir hidup saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tekad menjadi suami dan ayah yang baik.

Kenapa saya memilihmu? Hingga saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilihmu. Saya sudah sholat istikharoh berkali-kali, dan setiap kali saya melakukannya, hati saya semakin mantap memilihmu. Yang saya tahu, saya memilihmu karena Allah, dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, mengikuti sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon kamu shalat istikharoh dulu sebelum memberi jawaban atas niat tulus saya ini. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Aamiin

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

*********

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat 'lamaran' yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata-kata penuh dusta. Surat cinta minimalis, saya menyebutnya. Saya menatap sahabat disamping saya, ia pun menatap saya dengan senyum tertahan sambil meneteskan air mata bahagia.

"Kenapa kamu memilihnya?" Selidikku dengan penuh penasaran.

"Karena dia manusia biasa." Dia menjawab mantap. "Saya sadar bahwa ia hanyalah manusia biasa. Dia yakin masih memiliki Allah yang mengatur  hidupnya. Yang saya tahu ia akan selalu berusaha, meski ia tidak menjanjikan apa-apa. Dia mengatakan itu karena sadar bahwa ia tidak tahu apa yang akan terjadi tentang kami dikemudian hari, dan entah kenapa, itulah yang memberi kenyamanan tersendiri di hatiku."

"Maksudnya?"

"Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada, iya kan? Paling tidak aku tahu bahwa ia tidak akan frustasi sekiranya suatu hari nanti kami jadi gembel. Hahaha."

"Sssttt." Saya membekap mulutnya, kuatir ada yang tahu kalau kami ngobrol rahasia. Terdiam kami memasang telinga. Sunyi. Kami saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing.

"Ni’", tidur yu, dah larut." "Yu'." Saya juga memang sudah ingin ia tidur, agar tidak begadang hingga terlalu larut dan ia bisa terlihat semakin cantik di esok hari.

Malam itu, percakapan kami terus terngiang di telingaku hingga membuatku sendiri sulit untuk memejamkan mata...

*********

Satu lagi pelajaran pernikahan yang saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar akan arti kemanusiannya, sadar bahwa ada kekuatan yang Maha mengatur segala kehidupan ini, bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, maka kepedulian akan kesederhanaan hidup, ketenangan bathin, dan rasa rindu akan kehidupan akhirat menjadi lebih penting diatas segalanya.

Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan 'nama'. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang 'melekat' pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama, pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata, diniatkan untuk ibadah, menyerah secara total kepada Allah, maka semua akan menjadi indah.

Dengan bersimpuh luruh dalam kepasrahan ubudiyah memohon keridhoanNya, meminta kemurahan kasihNya mengucurkan keberkahan dalam sebuah pernikahan, maka semua akan menjadi bermakna.

Lalu, bagaimana dengan cinta? Kata Ibu, cinta itu proses. Proses dari ada - menjadi hadir - lalu tumbuh - kemudian merawatnya. Untuk membuatnya terus bersemi, yang dibutuhkan hanyalah kesadaran diri slalu untuk mengerti dengan sepenuh jiwa bahwa dunia ini hanyalah proses menuju kehidupan yang kekal. Dengan pertemuan cinta yang halal dan suci yang didasari dengan niat tulus untuk menghambakan diri kepadaNya semata, maka cinta dua manusia biasa akan menjelma menjadi cinta yang luar biasa.

Oleh: Nhea az Zahra
Editor: Nuldy Muthahar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar